Pernah putus cinta? (ga mungkin jika jawabannya tidak), pernah berada di tengah-tengah perselingkuhan?, pernah ditinggal gebetan gara-gara PDKT terlalu lama? (saya sedikit tersindir, abaikan!), sudah pacaran lama tapi harus kandas karena perbedaan Agama? (lagi-lagi saya tersindir, menghela napas panjang), yang paling kronis apakah pernah ditinggal pacar atau gebetan menikah? (semoga Anda tidak segera bunuh diri).
Keadaan seperti yang sedikit banyak saya sebutkan diatas adalah keadaan yang bisa membuat akal sehat tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seperti menangis 2 hari 2 malam di dalam kamar tanpa asupan karbohidrat, curhat di sosial media yang seharusnya jangan dilakukan, mencaci maki diri sendiri bahkan pacar dan selingkuhannya, mengabaikan semua orang-orang terdekat yang sebenarnya mereka peduli dan masih banyak lagi hal-hal bodoh lainnya. Sangat wajar jika satu dari hal tersebut atau bahkan hampir semuanya Anda lakukan, toh untung ruginya Anda sendiri yang melakukan.
Sebelum saya menulis ini, beberapa minggu lalu saya baru saja bertemu dengan sahabat lama dan ia pun menceritakan kegalauannya akibat akhir cerita cintanya. Sahabat saya harus merelakan orang yang ia sayang untuk pergi meninggalkannya, sudah cukup lama mereka menjalin asmara yaitu 3 tahun, dan harus kandas karena mereka berbeda agama (tapi sayang senang, ternyata bukan saya saja yang merasakannya. Bangga karena tidak sendiri dan betapa jahatnya saja tertawa di atas penderitaan orang). Dengan perasaan menyesal akhirnya mereka mengakhiri hubungannya, tetapi mereka berjanji untuk masih bersikap selayaknya pacaran dan melarang satu sama lain untuk memiliki pacar baru.
Anda semua pasti mengetahui atau bahkan pendapat bahwa “obat dari cinta adalah cinta” sudah tertanam di hati dan pikiran Anda. Disaat Anda disakiti oleh cinta yang menurut Anda adalah cinta sejati disaat itulah Anda harus segera mencari ‘obat’nya yaitu cinta baru, yang jelas dengan orang baru pula (jika masih dengan orang lama, itu tandanya Anda akan memiliki penyakit kronis).
Setelah sahabat saya mengupdate cerita cintanya 10 hari kemudian, yang ia ceritakan hanya perasaan salah, menyesal dan terjebak di masa lalu. Dengan sedikit wejangan dan kata-kata bijak yang saya keluarkan, sedikit banyak pula hati dan pikirannya terbuka, bahwa ia tidak bisa di posisi dan kondisi seperti ni terus. Dengan waktu konsultasi sekitar beberapa hari, akhirnya ia pun berniat untuk membuka hati bagi cinta barunya.
Obat dari penyakit cinta yang kronis adalah cinta itu sendiri, sebaiknya Anda segera memiliki resep cinta yang baru. Jika Anda masih ingin dengan penyakit cinta Anda yang lama itu tetap keputusan Anda, tetapi harus bersiap dengan gejala dan sakitnya.
Segeralah mencari orang baru untuk mengobati luka lama..
Dan semoga sahabat saya menemukan ‘obat’ yang tepat dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Amin.